Ragam  

Pengembangan Batik Lelaku Sulur Wungu Desa Margomulyo Dapat Respons Positif Dari Masyarakat.

admin
17874067149527984138376845366866 Copy 623x468

Bojonegoro,ANN CO.ID – Desa Margomulyo Kecamatan Margomulyo Kabupaten Bojonegoro memiliki potensi lokal batik Lelaku Sulur Wungu.

Batik tersebut terinspirasi dari tanaman uwi ungu yang merupakan salah satu tanaman lokal di Kecamatan Margomulyo. Sebelumnya, motif Obor Sewu lebih dulu dikenal masyarakat.

Sebagai upaya pengembangan potensi lokal, Pemerintah Desa berkolaborasi dengan mahasiswa KKN PINTAR Unugiri 2026 Kelompok 39, yakni mendorong pengembangan potensi Batik Lelaku Sulur Wungu merupakan karya Adinda Putri Febri Susanti, yang juga warga Desa Margomulyo.

Salah satu langkah diambil melalui proses pendaftaran atau pencatatan Hak Kekayaan Intelektual (HaKI).

Sandrianto, salah satu mahasiswa KKN PINTAR UNUGIRI Kelompok 39, menjelaskan ide pencatatan HaKI karena Batik Lelaku Sulur Wungu tidak hanya mengangkat bentuk dan karakter tanaman uwi ungu, tetapi juga mengaitkannya dengan nilai pitutur luhur masyarakat Samin di Margomulyo, yakni sabar, trokal, narimo, serta ora iri, drengki, srei, lan dahwen.

Nama Lelaku Sulur Wungu menggambarkan perjalanan pertumbuhan uwi, mulai dari proses menanam, merawat, hingga menghasilkan panen.

Sulur uwi yang merambat dan terus mencari tempat untuk tumbuh menjadi simbol nilai trokal, yakni sikap manusia untuk terus berusaha.

Sementara ornamen daun menggambarkan pertumbuhan dan keberlangsungan kehidupan. Motif uwi yang dibelah menjadi simbol nilai sabar, mengingat tanaman tersebut membutuhkan waktu untuk tumbuh hingga dapat dipanen.

Hal tersebut menjadi pengingat bahwa setiap hasil membutuhkan proses dan ketekunan.

Hasil panen uwi yang diterima sebagaimana hasilnya, baik banyak maupun sedikit, menggambarkan nilai narimo, yakni sikap menerima dan mensyukuri hasil.

Adapun motif uwi yang disusun dalam bentuk ceplok menggambarkan umbi yang tumbuh di dalam tanah serta kemampuan tanaman tersebut bertahan dan menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan.

Motif pendukung berupa rumput juga memiliki makna tersendiri. Rumput yang dapat tumbuh di berbagai tempat dan berdampingan dengan tumbuhan lain mencerminkan pitutur Samin ora iri, drengki, srei, lan dahwen, yakni tidak iri, dengki, serta tidak menyebarkan fitnah.

Sandrianto menuturkan, dalam proses pengajuan pencatatan HaKI, mahasiswa melakukan observasi langsung terhadap bentuk uwi ungu, dilanjutkan dengan wawancara sesepuh Samin.

Setelah itu dilakukan pembuatan sejumlah alternatif desain, pemilihan dan revisi motif, penguatan makna serta filosofi, hingga proses produksi.

Pengembangan Batik Lelaku Sulur Wungu tersebut mendapat respons positif dari masyarakat. Penyerahan Surat Pencatatan Ciptaan (HaKI) berlangsung di sela-sela Kirab Bendera Merah Putih sepanjang 80 dan 81 meter dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Dusun Jepang, Kecamatan Margomulyo.

Sementara itu, Camat Margomulyo Joko Tri Cahyono mengapresiasi keterlibatan KKN PINTAR Unugiri 2026 Kelompok 39 dalam mengembangkan potensi lokal Desa Margomulyo.

Menurutnya, kehadiran mahasiswa KKN tidak hanya menjalankan program kerja, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap pengembangan potensi dan budaya masyarakat desa.

“Harapannya, Batik Lelaku Sulur Wungu ini dapat terus dikembangkan, dikenalkan lebih luas, dan menjadi identitas serta kebanggaan masyarakat Margomulyo,” pungkasnya.(Ek)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *