Opini  

Andainya Surabaya Bisa Memulai? Ketika Kota Menghargai Warganya yang Peduli

admin
Img 20260907 Wa0031 Copy 1355x903

Surabaya,ANN.CO.ID – Surabaya adalah kota yang mengusung visi humanis, modern dan berkelanjutan. Tetapi visi akan kehilangan makna jika hanya berhenti sebagai slogan. Ia harus hadir dalam cara kota memperlakukan manusia, menggunakan teknologi, mengelola ruang publik dan membangun masa depan.

Humanis berarti kota mampu melihat warganya bukan sekadar sebagai angka statistik, penerima layanan, pembayar pajak atau objek pembangunan. Di balik setiap angka ada manusia yang memiliki martabat, perasaan, potensi dan kontribusi.

Modern juga bukan sekadar gedung tinggi, videotron, digitalisasi dan teknologi. Kota modern adalah kota yang menggunakan kemajuan untuk membangun peradaban: tata kehidupan yang lebih tertib, adil, terbuka dan menghargai manusia.

Sementara berkelanjutan tidak hanya berbicara tentang lingkungan. Keberlanjutan juga menyangkut kemampuan kota melahirkan kebaikan yang terus berlanjut. Kebaikan hari ini harus mampu menginspirasi kebaikan berikutnya.

Karena itu, ada satu pertanyaan sederhana yang layak diajukan: siapa yang kita pilih untuk tampil di ruang publik kota?

Selama ini, ruang publik visual—billboard, videotron dan berbagai media luar ruang—lebih sering dipenuhi wajah politisi, selebritas, model atau mereka yang memiliki modal dan popularitas.

Tidak ada yang salah dengan kehadiran mereka. Persoalannya adalah ketidakseimbangan.

Sebab orang yang paling sering terlihat belum tentu orang yang paling banyak memberikan manfaat kepada masyarakat.

Di jalan-jalan kota, wajah yang kita lihat sering kali adalah wajah orang yang sedang menjual sesuatu, membangun popularitas atau menyampaikan pesan politik. Sementara guru yang puluhan tahun mendidik anak, peneliti yang menemukan solusi bagi kehidupan, relawan yang mendampingi masyarakat, tenaga kesehatan yang bekerja dalam senyap, seniman yang merawat kebudayaan, kader kampung yang menjaga lingkungan, hingga warga biasa yang setiap hari menolong sesamanya, hampir tidak pernah mendapatkan ruang visual yang sama.

Padahal merekalah infrastruktur sosial sebuah kota.

Mereka mungkin tidak memiliki jutaan pengikut di media sosial. Mereka mungkin tidak terkenal. Tetapi manfaat dari apa yang mereka lakukan dirasakan banyak orang.

Tidak harus terkenal untuk menjadi berarti.

Di sinilah saya melihat menariknya sebuah fenomena di China. Ruang visual publik tidak hanya digunakan untuk kepentingan komersial, tetapi juga untuk memperkenalkan tokoh-tokoh yang dianggap berjasa bagi masyarakat.

Wajah seperti Yuan Longping, yang dikenal melalui kontribusinya terhadap ketahanan pangan; Qian Xuesen, ilmuwan yang berperan besar dalam pengembangan teknologi antariksa; Deng Jiaxian, salah satu tokoh penting dalam pengembangan teknologi nuklir China; dan Tu Youyou, ilmuwan penerima Nobel yang berkontribusi besar dalam penemuan terapi malaria, menjadi bagian dari narasi visual masyarakat.

Mereka bukan influencer. Bukan selebritas. Bukan model iklan.

Mereka ditampilkan karena karya dan pengabdiannya.

Pesan yang ingin disampaikan sebenarnya sederhana:
“Inilah orang-orang yang layak kita kenal. Inilah orang-orang yang layak kita kagumi.”

Saya membayangkan, bagaimana jika gagasan semacam itu dimulai di Surabaya?

Surabaya sebenarnya tidak kekurangan manusia yang layak diapresiasi.

Ada guru yang puluhan tahun mengabdi. Ada anak muda yang menciptakan inovasi. Ada seniman yang merawat identitas Arek. Ada peneliti yang bekerja di laboratorium. Ada relawan yang mendampingi anak-anak. Ada tenaga kesehatan yang bekerja tanpa banyak bicara. Ada petugas kebersihan yang datang sebelum matahari terbit. Ada kader kampung yang menjaga warganya. Ada warga yang dengan kesadaran sendiri menanam pohon, mengelola sampah, membantu tetangga atau mendampingi mereka yang sedang kesulitan.

Mereka mungkin tidak masuk berita.

Tetapi Surabaya menjadi lebih baik karena mereka.

Karena itu, pemerintah kota dapat mengambil sebagian kecil ruang pada videotron atau media publik yang berada dalam pengelolaan pemerintah untuk menjadi ruang apresiasi warga.

Tidak perlu mewah.

Misalnya:

“30 Tahun Mengabdi, Mendidik Anak Surabaya.”

Atau:

“Setiap Pagi Menjaga Surabaya Tetap Bersih.”

“Merawat Kebudayaan Arek melalui Seni.”

“Mendampingi Anak Surabaya Tumbuh dan Terlindungi.”

Dan di bagian bawah cukup ditulis:

SURABAYA BERTERIMA KASIH

Gagasan ini dapat dikembangkan menjadi gerakan “Surabaya Berterima Kasih”.

Warga dapat mengusulkan nama-nama mereka yang dianggap memberikan manfaat nyata. Bukan karena jabatan, kekayaan, jumlah pengikut atau popularitasnya, melainkan karena apa yang telah diberikan kepada orang lain.

Bayangkan jika setiap bulan beberapa wajah warga Surabaya muncul di ruang publik.

Bukan untuk mencari suara.

Bukan untuk menjual produk.

Bukan untuk membangun citra.

Tetapi untuk mengingatkan seluruh warga bahwa kebaikan masih ada dan layak dirayakan.

Bukankah ruang publik seharusnya bukan hanya tempat kita melihat apa yang harus dibeli, tetapi juga tempat kita belajar apa yang patut dihargai?

Ini juga akan memperkuat makna Surabaya sebagai kota humanis, modern dan berkelanjutan.

Humanis, karena kota hadir untuk menghargai manusia dan kemanusiaannya.

Modern, karena teknologi tidak berhenti sebagai alat konsumsi dan promosi, tetapi digunakan untuk membangun kesadaran dan peradaban.

Berkelanjutan, karena penghargaan terhadap satu orang baik dapat menginspirasi orang lain untuk melakukan kebaikan berikutnya.

Dengan demikian, videotron tidak lagi sekadar menjadi “layar yang menjual”, tetapi berubah menjadi layar yang mendidik.

Ruang publik tidak hanya menjadi ruang lalu lintas manusia, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran sosial.

Kota tidak hanya membangun jalan, taman, gedung dan infrastruktur fisik, tetapi juga membangun memori kolektif tentang orang-orang baik yang pernah dan sedang membangun kota.

Surabaya bahkan bisa memiliki semacam “museum manusia” yang tidak berada di dalam gedung.

Wajahnya hadir di jalan-jalan, taman, sekolah dan ruang publik. Ceritanya bukan tentang siapa yang paling terkenal, tetapi siapa yang paling memberikan arti.

Pada akhirnya, pembangunan kota bukan hanya persoalan beton, investasi, teknologi dan angka pertumbuhan. Kota dibangun oleh manusia dan oleh nilai-nilai yang dipilih untuk dihormati.

Maka pertanyaannya sederhana:

Maukah Surabaya memulai?

Cukup dari satu layar.

Satu wajah.

Satu kisah.

Dan satu kalimat sederhana:

“Terima kasih telah membuat Surabaya menjadi lebih baik.”

Sebab ketika sebuah kota mulai menghargai warganya yang peduli, sesungguhnya kota itu tidak hanya sedang memberikan penghargaan.

Ia sedang menanam benih kepedulian untuk generasi berikutnya.

Surabaya, 7 September 2026
Oleh : M. Isa Ansori
Kolumnis, Dosen, Praktisi Psikologi Komunikasi dan Transaksional Analisis, Wakil Ketua ICMI Jawa Timur, Dewan Penasehat LHKP PD Muhammadiyah Surabaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *