Ragam  

Di Antara Abu dan Doa, Refleksi atas Hilangnya Lima Wartawan Di Anak Krakatau

admin
Img 20260913 Wa0031 Copy 1000x750

Surabaya,ANN CO.ID – Ada saat ketika sebuah berita berhenti menjadi sekadar berita. Ia berubah menjadi kecemasan. Menjadi doa. Menjadi penantian panjang di depan pintu rumah. Menjadi wajah seorang istri yang berharap suaminya pulang, anak yang bertanya kapan ayahnya kembali, dan keluarga yang setiap kali telepon berdering berharap mendengar kabar baik.

Itulah yang sedang dirasakan keluarga lima jurnalis yang hilang kontak di perairan Selat Sunda saat menjalankan tugas meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Senin, 7 September 2026, lima jurnalis—M. Bagus Khoirunnas dari ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firdaus Wajidi dari Anadolu Agency, dan Donal Husni, jurnalis lepas—bertolak bersama tiga kru KM Arupadhatu 1 dari kawasan Carita menuju perairan sekitar Gunung Anak Krakatau.

Mereka berangkat untuk satu pekerjaan yang mungkin bagi sebagian orang tampak sederhana: mengambil gambar, merekam peristiwa, lalu mengabarkannya kepada publik.

Tetapi di balik sebuah foto jurnalistik, sering terdapat keberanian yang tidak terlihat.

Di balik satu gambar erupsi, ada seseorang yang harus berada cukup dekat untuk menangkap momen. Di balik sebuah laporan dari kawasan bencana, ada jurnalis yang harus menghadapi ketidakpastian, cuaca buruk, medan berbahaya, dan kemungkinan terburuk.

Hari itu mereka berangkat bukan untuk mencari bahaya.Mereka berangkat untuk menjalankan profesi dan justru di situlah kita perlu berhenti sejenak.

Ketika berita berhadapan dengan nyawa
Jurnalisme bencana adalah pekerjaan yang menuntut keberanian sekaligus disiplin keselamatan. Seorang wartawan dituntut berada di tempat peristiwa terjadi karena publik memiliki hak untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Namun ada satu prinsip yang semestinya tidak pernah dilupakan:
tidak ada berita yang lebih mahal daripada nyawa manusia.

Kalimat itu bukan berarti wartawan harus menjauh dari risiko. Sebaliknya, wartawan memang dituntut hadir ketika masyarakat membutuhkan informasi.Tetapi keberanian tidak boleh diterjemahkan sebagai kenekatan.

Profesionalisme jurnalistik bukan hanya kemampuan mendapatkan gambar terbaik, tetapi juga kemampuan mengetahui kapan harus mendekat dan kapan harus mundur.

Karena itu, tragedi hilangnya lima jurnalis di Selat Sunda semestinya tidak hanya melahirkan rasa sedih.

Ia harus melahirkan pertanyaan.Apakah sistem keselamatan kerja bagi jurnalis di wilayah bencana sudah cukup kuat?

Apakah setiap jurnalis yang dikirim ke wilayah berbahaya telah mendapatkan pelatihan keselamatan?

Apakah perusahaan media memiliki protokol yang jelas tentang kapan sebuah peliputan harus dihentikan?

Dan yang paling penting: siapa yang bertanggung jawab memastikan seorang jurnalis dapat pulang dengan selamat setelah menjalankan tugasnya?

Di antara abu dan ketidakpastian Sejak rombongan berangkat pada Senin siang, komunikasi kemudian terputus. Salah satu anggota rombongan sempat mengirimkan lokasi terakhir sebelum hubungan komunikasi hilang. Tim SAR kemudian bergerak melakukan pencarian terhadap delapan orang yang berada di KM Arupadhatu 1.

Hari berganti Pencarian diperluas.Kapal dikerahkan. Pesawat dan helikopter digunakan. Tim gabungan menyisir wilayah perairan dan pulau-pulau di sekitar Selat Sunda.Namun keberadaan mereka belum ditemukan.

Hingga 13 September, harapan itu masih dijaga. Bahkan informasi mengenai kemungkinan titik kontak terakhir di sekitar Pulau Sebesi terus diverifikasi oleh tim SAR.

Dalam situasi seperti ini, satu benda kecil di laut bisa menjadi harapan besar bagi keluarga.Sebuah pelampung.Sebuah jeriken.Sebuah rompi keselamatan.

Benda-benda yang bagi orang lain mungkin tidak berarti, bagi keluarga korban bisa menjadi tanda: mungkin mereka masih di sana.

Karena itu, kita harus berhati-hati menggunakan kata.Mereka bukan sekadar “korban”.

Mereka adalah manusia yang sampai hari ini masih dinantikan kepulangannya.
Lima nama yang masih dipanggil dalam doa.Ketika solidaritas menjadi cahaya
Ada satu hal yang menyentuh dari peristiwa ini.Di tengah ketidakpastian, solidaritas tumbuh.

Para jurnalis berkumpul dan berdoa. PFI, IJTI, AJI, dan berbagai komunitas pers menunjukkan kepedulian. Doa bersama digelar di Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, hingga berbagai daerah lainnya. Pada 12 September, para jurnalis di Sulawesi Tenggara juga menggelar doa untuk kelima rekannya.

Mereka mungkin berbeda media.Berbeda organisasi.Berbeda pilihan dalam melihat banyak hal.Tetapi ketika lima kawan mereka belum pulang, perbedaan itu sejenak menjadi tidak penting.

Yang tersisa hanya satu kalimat: Pulanglah, kawan.Inilah wajah lain dari dunia jurnalistik yang jarang terlihat.

Di layar publik, wartawan sering tampak sebagai orang yang sibuk mengejar berita.
Namun di balik layar, mereka adalah sebuah keluarga besar.Ketika satu orang hilang, yang lain ikut merasakan kehilangan.

Ketika satu keluarga menunggu, ribuan orang ikut mendoakan.Dan ketika satu profesi terluka, solidaritas menjadi cara untuk mengatakan:
Anda tidak sendirian.Jangan romantisasi keberanian Kita perlu menghormati keberanian lima jurnalis tersebut.

Tetapi kita juga harus berhati-hati agar tidak meromantisasi bahaya.
Jangan sampai keberanian seorang jurnalis justru menjadi alasan bagi sistem untuk membiarkan keselamatan mereka diabaikan.

Seorang jurnalis tidak seharusnya dipaksa memilih antara profesionalisme dan keselamatan.

Ia berhak mendapatkan keduanya.Karena itu, tragedi ini harus menjadi momentum untuk memperkuat keselamatan kerja jurnalis Indonesia.

Media perlu memastikan setiap wartawan yang ditugaskan ke wilayah bencana mendapatkan pelatihan mitigasi risiko, perlengkapan keselamatan, sistem komunikasi darurat, asuransi, serta prosedur evakuasi yang jelas.

Untuk peliputan berisiko tinggi, sistem buddy atau pendampingan juga penting. Seorang jurnalis tidak boleh bekerja sendirian tanpa sistem komunikasi dan pelacakan yang memadai.

Perusahaan media, organisasi profesi, pemerintah, Basarnas, BNPB, BMKG, PVMBG, TNI, Polri, dan pemangku kepentingan lainnya juga perlu membangun protokol bersama.

Sebab bencana tidak mengenal batas institusi.Keselamatan manusia juga seharusnya tidak mengenal batas institusi.Kemanusiaan bukan sekadar rasa iba

Kita sering mengatakan bahwa kita prihatin ketika sebuah tragedi terjadi.
Tetapi keprihatinan yang berhenti pada ucapan tidak cukup.Kemanusiaan membutuhkan tindakan.

Jika seorang jurnalis pergi ke wilayah bencana, pastikan ia memiliki perlindungan.

Jika sebuah media mengirim wartawan ke medan berbahaya, pastikan ada protokol keselamatan.

Jika negara membutuhkan informasi dari lapangan, pastikan orang yang menyampaikan informasi itu juga dilindungi.

Dan ketika sebuah keluarga kehilangan kabar tentang orang yang mereka cintai, negara harus hadir memberikan kepastian, informasi, dan dukungan.

Di sinilah negara diuji.Bukan hanya ketika membangun infrastruktur.Bukan hanya ketika membuat kebijakan.

Tetapi ketika ada manusia yang berada dalam situasi paling rentan dan membutuhkan tangan negara untuk menyelamatkannya.

Lima nama yang jangan kita lupakan
M. Bagus Khoirunnas.
Ari Basuki.
Yudistiro Pranoto.
Firdaus Wajidi.
Donal Husni.

Lima nama itu jangan kita biarkan menjadi sekadar daftar dalam arsip berita.Di balik masing-masing nama terdapat keluarga.

Ada rumah.Ada orang yang menunggu.
Ada cerita hidup.Ada mimpi yang belum selesai.

Ada orang-orang yang mencintai mereka.
Dan sampai hari ini, ada harapan bahwa mereka akan kembali.Karena itu, mari kita doakan mereka.

Mari kita dukung operasi pencarian.
Mari kita hormati keluarga yang sedang menunggu.Dan mari kita menjaga informasi agar tetap berdasarkan fakta, bukan spekulasi. Pemerintah sendiri telah mengingatkan agar informasi terkait pencarian tidak disebarkan secara spekulatif.

Tetapi setelah itu, kita juga harus melakukan sesuatu yang lebih jauh.

Kita harus memastikan bahwa bila suatu hari seorang wartawan kembali dikirim ke wilayah bencana, ia tidak hanya membawa kamera dan alat perekam.

Ia juga membawa pengetahuan keselamatan.Ia memiliki perlindungan. Ia memiliki sistem komunikasi.Dan ia memiliki kepastian bahwa ada orang yang akan mencarinya apabila sesuatu terjadi.
Pulanglah, kawan.

Di antara abu Gunung Anak Krakatau dan luasnya Selat Sunda, ada lima nama yang sedang kita titipkan kepada langit.

Kita belum tahu bagaimana akhir kisah ini.
Karena itu, jangan mendahului takdir dengan kesimpulan.Hari ini, mereka masih dalam pencarian.Hari ini, keluarga masih menunggu.

Hari ini, doa masih dipanjatkan.
Dan hari ini pula, harapan belum boleh kita matikan.Semoga Allah memberikan kekuatan kepada keluarga mereka, keselamatan kepada tim SAR, dan jalan terbaik bagi kelima jurnalis serta tiga kru KM Arupadhatu 1.

Namun apa pun kelak yang terjadi, satu hal harus kita pastikan:
jangan biarkan peristiwa ini berlalu tanpa pelajaran.Sebab kemanusiaan bukan hanya kemampuan kita untuk menangisi sebuah kehilangan.

Kemanusiaan adalah keberanian untuk memperbaiki sistem agar kehilangan yang sama tidak terulang.

Lima jurnalis itu berangkat untuk membuat dunia tahu apa yang terjadi di Anak Krakatau.

Kini, giliran kita memastikan dunia tidak melupakan mereka.Pulanglah, kawan.
Di daratan, ada keluarga yang menunggu.
Di laut, ada tim SAR yang terus mencari.
Dan di seluruh negeri, ada doa yang terus dilangitkan.

Semoga lima nama itu segera kembali menjadi kabar bahagia.Semoga mereka pulang.Karena setiap manusia berhak pulang.Dan setiap keluarga berhak mendapatkan kepastian.

Surabaya, 13 September 2026
Oleh: M. Isa Ansori
Kolumnis dan Dosen, Wakil Ketua ICMI Jatim serta Dewan Penasehat LHKP PD Muhammadiyah Surabaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *