Ekonomi Jatim Tumbuh, Tapi Pengangguran Sarjana Tertinggi

admin
Img 20260505 Wa0185 Copy 1600x900

Surabaya,ANN.CO.ID  — Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada awal 2026 menunjukkan tren positif. Namun di balik capaian tersebut, muncul persoalan serius: tingginya pengangguran dari kalangan lulusan perguruan tinggi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat, ekonomi Jatim pada Triwulan I-2026 tumbuh 1,25 persen (q-to-q). Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp888,44 triliun, sementara atas dasar harga konstan 2010 sebesar Rp523,66 triliun.

Secara tahunan (y-on-y), ekonomi Jatim juga tumbuh 5,96 persen. Dari sisi produksi, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 15,85 persen.
Namun, kondisi ketenagakerjaan menunjukkan tantangan yang tak kalah besar.

Plt. Kepala BPS Jawa Timur, Herum Fajarwati, mengungkapkan bahwa tingkat pengangguran terbuka (TPT) lulusan universitas mencapai 6,04 persen—tertinggi dibanding jenjang pendidikan lainnya.

“Lulusan universitas memiliki TPT paling tinggi di Jawa Timur pada Februari 2026,” ujarnya, Selasa (5/5/2026).

Secara umum, TPT Jawa Timur berada di angka 3,55 persen atau turun 0,06 persen poin dibanding Februari 2025. Meski demikian, angka ini belum mencerminkan kualitas tenaga kerja yang sepenuhnya membaik.

Jumlah angkatan kerja di Jawa Timur pada Februari 2026 mencapai 25,14 juta orang, naik 386,19 ribu orang dibanding tahun sebelumnya. Dari jumlah itu, sebanyak 24,25 juta orang telah bekerja, sementara 892,64 ribu lainnya masih menganggur.
Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan 7,70 juta orang atau 31,76 persen dari total pekerja.

Di sisi lain, proporsi pekerja formal justru menurun. Pada Februari 2026, hanya 35,56 persen tenaga kerja berada di sektor formal, turun 0,53 persen poin dibanding Februari 2025. Sementara itu, pekerja paruh waktu meningkat 0,45 persen poin. BPS juga mencatat tingkat setengah pengangguran turun 0,31 persen poin.

Jumlah penduduk usia kerja (PUK) di Jawa Timur mencapai 33,62 juta orang, meningkat 280,14 ribu orang dibanding tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, 25,14 juta termasuk angkatan kerja dan 8,48 juta lainnya bukan angkatan kerja.

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) tercatat sebesar 74,78 persen, naik 0,53 persen poin. Berdasarkan jenis kelamin, TPAK laki-laki sebesar 86,55 persen, lebih tinggi dibanding perempuan yang sebesar 63,23 persen.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi secara kuartalan terjadi pada konsumsi lembaga non-profit yang melayani rumah tangga sebesar 2,47 persen. Sementara secara tahunan, konsumsi pemerintah tumbuh paling tinggi hingga 20,33 persen.

Adapun secara struktur, sektor industri pengolahan masih mendominasi perekonomian Jawa Timur dengan kontribusi sebesar 31,45 persen.

Pertumbuhan ekonomi yang positif ini menunjukkan ketahanan ekonomi daerah. Namun, tingginya pengangguran lulusan sarjana dan menurunnya sektor formal menjadi catatan penting bagi perbaikan kualitas pasar kerja ke depan.(Bang).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *