Bojonegoro,ANN.CO.ID – Setiap musim kemarau tiba di Bojonegoro menimbulkan dampak yang serius terutama di kawasan selatan Kabupaten Bojonegoro. Dimana kawasan selatan Bojonegoro dahulu dikenal kawasan hutan namun sekarang berubah menjadi kawasan pertanian (Deforestasi)
Berdasarkan data dan catatan kehutanan deforestasi di Bojonegoro menunjukkan angka 5080 hektar sejak tahun 2001. Luas kawasan hutan di Kabupaten Bojonegoro yang mencapai 95 ribu hektar lambat laun menyusut karena aktivitas alih fungsi lahan, penebangan liar serta kebakaran hutan dan lahan.
Terdapat beberapa jurnal, studi dan kajian ilmiah yang membahas deforestasi dari berbagai Universitas ternama dan NGO. Dengan menitikberatkan akan dampak dan potensi bencana sebagai akibat deforestasi sudah saatnya ada polecy dari Pemerintah untuk mengatasinya.
Jurnal Saint agro pada 2025 menyebutkan penelitian dan analisis data satelit Landsat 8 dari tahun 2015 hingga 2024 menunjukkan penurunan luas hutan yang signifikan di Bojonegoro selatan, yaitu dari luas 380,97 km persegi menjadi 282,39 km persegi yang menyusut 25,8 persen dalam waktu sembilan tahun.
Jurnal Ilmiah Kesehatan Manset (JIKM) oleh OJS ubesco yang meneliti bagaimana penggundulan hutan secara besar besaran di kawasan hutan Pendowo Bojonegoro memengaruhi kesuburan tanah dan merusak ekosistem keanekaragaman hayati makrofauna tanah yang berfungsi sebagai bioindikator alam.
Kajian Pengawasan dan Sistem Monitoring Kehutanan dari E-Jurnal Universitas Untag Samarinda (2026) dengan temuan utama mengevaluasi kinerja Cabang Dinas Kehutanan Kabupaten Bojonegoro.
Studi ini menyoroti pengawasan hutan di Bojonegoro masih memiliki keterbatasan efektivitas akibat kendala struktural, keterbatasan SDM serta pemanfaatan teknologi pengawasan yang belum optimal.
Alam akan menemukan caranya sendiri dalam mengembalikan keseimbangannya dan apabila kerusakan hutan semakin besar dan tidak ada upaya yang terstruktur,sistematis dan masif dari stakeholder maka alam yang akan bicara.
Oleh : Heri Wibowo










