Rupiah Merosot Ke Level Terendah Sepanjang Sejarah Indonesia Tembus 17.500 per Dolar AS

admin
Img 20260512 Wa0129 Copy 1448x1086

Jakarta,ANN.CO.ID -:Pasar keuangan Indonesia lagi tidak beruntung, Rupiah terjun bebas ke level terendah sepanjang sejarah Indonesia.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami nasib yang sama, sampai saat ini anjlok 2%.

Sejumlah bank nasional mulai menjual dolar AS di kisaran Rp 17.500 hingga mendekati Rp 17.700.
Tekanan kurs ini mulai memukul industri – industri nasional.

Menteri Keuangan Purbaya YS juga merespons pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS hari ini, dengan mengatakan Pemerintah akan mulai masuk ke pasar obligasi untuk menstabilkan nilai tukar rupiah besok maksudnya adalah Rabu, 12 Mei.

Bank Indonesia (BI) buka suara mengenai pelemahan nilai tukar rupiah pada hari ini. Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh konflik di Timur Tengah.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menuturkan konflik di Middle East yang masih berlangsung dengan intensitas yang meningkat sehingga mendorong naiknya harga minyak dan ketidakpastian global.

“Dari domestik, meningkatnya kebutuhan dollar secara musiman seperti pembayaran ULN dan pembayaran deviden serta kebutuhan untuk ibadah haji mendorong peningkatan permintaan dolar di pasar domestik,” ujar Destry.

Destry menegaskan ⁠BI berkomitmen untuk selalu berada di pasar dengan melakukan smart intervention baik di pasar spot, DNDF maupun NDF dan juga mengoptimalkan penggunaan semua instrumen operasi moneter sehingga diharapkan dapat mengurangi tekanan pada rupiah.

Bank sentral melihat perbaikan kepercayaan investor asing sehingga arus modal asing mulai kembali ke pasar uang dalam negeri.

“BI juga melihat confidence investor asing di aset portfolio terus membaik yang tercermin dari masuknya inflow, khususnya ke Pasar SBN dan SRBI selama bulan April sebesar Rp 61.6 triliun,” tuturnya.

Ketersediaan likuiditas valas di pasar domestik BI juga cukup tinggi dengan pertumbuhan DPK valas di akhir Maret mencapai 10,9% year to date

Oleh karena itu, BI memperkirakan tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda sehingga nilai tukar rupiah bisa kembali ke level fundamentalnya. (dms)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *