Surabaya,ANN.CO.ID – Di sebuah toko kelontong sederhana di Desa Siman, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, Zahira Dewi Kirana Lestari terbiasa membantu ibunya melayani pembeli.
Sepulang sekolah atau saat hari libur, aktivitas itu menjadi bagian dari kesehariannya.
Di sela rutinitas tersebut, ia menyimpan satu harapan: dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri.
Harapan itu kini menjadi kenyataan. Zahira diterima sebagai mahasiswa Program Studi S-1 Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melalui program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah.
Bagi Zahira, kesempatan tersebut bukan sekadar membuka pintu menuju bangku kuliah, tetapi juga membuka ruang untuk terus belajar, mengenal dunia yang lebih luas, dan mengembangkan minat yang telah tumbuh sejak di bangku sekolah.
Sebagai penyandang disabilitas daksa, Zahira memahami bahwa perjalanan menuju perguruan tinggi memerlukan usaha yang tidak sedikit.
Namun, kondisi tersebut tidak pernah mengurangi keinginannya untuk terus belajar. Sejak di MAN 3 Kediri, ia telah menanamkan tekad untuk melanjutkan studi.
“Dari SMA memang sudah ingin kuliah. Saya ingin kuliah di Surabaya karena sejak kecil pernah kontrol di sana, jadi sudah merasa lebih familiar dengan Surabaya,” ujarnya pada Selasa, 21 Juli 2026.
Ketertarikannya pada bahasa Inggris menjadi alasan memilih Program Studi Sastra Inggris. Berbagai film, musik, dan bacaan berbahasa Inggris yang dinikmatinya selama sekolah menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap bahasa sekaligus budaya dari berbagai negara.
Keinginan itu membawanya memiliki cita-cita untuk mengikuti program pertukaran mahasiswa ketika menjalani perkuliahan nanti.
“Saya ingin belajar bahasa dan budaya lain. Kalau ada kesempatan, ingin mencoba exchange ke luar negeri,” tuturnya.
Semangat belajar Zahira telah terlihat sejak di bangku sekolah. Selama menjadi siswa MAN 3 Kediri, ia dikenal aktif mengikuti berbagai kegiatan akademik, termasuk Olimpiade Sains Madrasah (OSM). Ahmad Fauzi, guru sejarah sekaligus wali kelas Zahira, mengenangnya sebagai pribadi yang ceria, mudah bergaul, dan memiliki motivasi belajar yang tinggi.
“Zahira anak yang supel, ceria, dan mudah berinteraksi dengan teman-temannya. Dia aktif di kelas dan sering mengikuti lomba olimpiade. Kami mendukung persiapannya hingga akhirnya diterima di Unesa,” ungkapnya.
Sementara, bagi Unesa, setiap mahasiswa yang diterima melalui KIP Kuliah membawa cerita dan potensi yang berbeda. Karena itu, dukungan yang diberikan kepada penerima KIP Kuliah tidak berhenti pada beasiswa saja.
Namun, juga dalam bentuk pendampingan sejak awal, mulai dari pendampingan akademik hingga fasilitas kuliah, dan kebutuhan tempat tinggal agar mahasiswa dapat belajar dengan baik, aman, dan nyaman.
Dalam kunjungannya ke kediaman Zahira pada Selasa, 21 Juli 2026, Wakil Rektor I Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Martadi menyampaikan bahwa proses seleksi penerima KIP Kuliah dilakukan secara menyeluruh agar beasiswa benar-benar menjangkau calon mahasiswa yang membutuhkan sekaligus memiliki semangat untuk berkembang.
“Kami melakukan seleksi secara ketat karena kuota penerima KIP Kuliah terbatas. Kami melihat berbagai aspek, mulai dari kondisi ekonomi, prestasi, hingga motivasi mahasiswa untuk berkembang. Itu dilakukan untuk memastikan beasiswa tepat sasaran,” jelasnya.
Menurutnya, mahasiswa penerima KIP Kuliah memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan diri melalui berbagai program pendampingan akademik, prestasi, organisasi kemahasiswaan, hingga mobilitas atau pertukaran di dalam maupun luar negeri.
Bagi Unesa, perjuangan Zahira patut diapresiasi. Melalui KIP Kuliah, kampus berupaya memastikan bahwa keterbatasan ekonomi maupun kondisi fisik tidak menjadi penghalang bagi talenta muda untuk memperoleh kesempatan belajar, bertumbuh, dan mengembangkan potensi terbaiknya. (Bang)












