Ragam  

Senator Lia Istifhama Soroti Orientasi Pengabdian Alumni LPDP

admin
Img 20260225 Wa0028 Copy 716x819

Surabaya,ANN.CO.ID – Wacana yang memperbolehkan alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) bekerja di luar negeri kembali menjadi perbincangan.

Anggota DPD RI, Dr. Lia Istifhama, menilai kebijakan tersebut perlu dicermati secara bijak agar tidak menggeser orientasi pengabdian generasi muda.

Menurutnya, kesempatan menempuh pendidikan di luar negeri adalah proses strategis untuk membentuk karakter mahasiswa Indonesia menjadi pribadi yang tangguh, adaptif, dan terbuka terhadap dinamika global.

“Beasiswa LPDP adalah impian mahasiswa. Sangat wajar jika impian menimba ilmu dari pendidikan luar negeri hadir dengan harapan membentuk karakter yang struggle, adaptif sebagai minoritas di tengah mayoritas, dan inventif. Jadi bagaimana bertahan hidup di negeri orang,” 24/2/26.

“Hal ini pernah saya sampaikan saat mengisi webinar, tepatnya dua kali di tahun 2024 lalu, bersama mahasiswa lintas provinsi yang kebetulan mendaftar beasiswa LPDP,” jelasnya.

Sebagai informasi, politisi cantik itu pernah menjadi narasumber webinar bersama Yayasan Pandara pada Juni 2024 dan Pemuda Pelopor Nasional pada Desember 2024 lalu terkait beasiswa LPDP.

Ning Lia menambahkan, bahwa pengalaman menjadi minoritas di lingkungan internasional merupakan pembelajaran sosial yang sangat berharga. Dari situ lahir ketahanan mental, cara pandang terbuka, serta kemampuan membaca perubahan dunia.

Namun, politisi perempuan ini menegaskan bahwa tujuan utama dari fasilitas tersebut bukanlah untuk menetap di luar negeri, melainkan kembali ke Indonesia membawa ilmu, jejaring, dan pengalaman global.

“Namun setelah lulus, seharusnya fokus di dalam negeri dengan tujuan mewariskan ilmu dan semangat kepada generasi di bawahnya,” tegasnya.

Dalam Webinar Series LPDP bertajuk penguatan fondasi pendidikan bagi generasi emas Indonesia, keponakan gubernur Jawa Timur ini mengingatkan bahwa dana LPDP bersumber dari keuangan negara, sehingga manfaatnya harus dirasakan oleh masyarakat Indonesia.

“Ketika impian meraih beasiswa tercapai, maka pulanglah. Dana yang digunakan berasal dari publik, sehingga manfaatnya harus kembali kepada publik,” tuturnya.

Pada forum lain yang mempertemukan unsur legislatif, pengelola program, akademisi, dan aktivis kepemudaan, Lia juga menyoroti pentingnya penggunaan diksi dalam kebijakan agar tidak membentuk persepsi keliru di kalangan generasi muda.

Ia menilai narasi yang memberi ruang terlalu longgar bagi alumni untuk bekerja di luar negeri berpotensi menggeser orientasi pengabdian. Padahal, Indonesia membutuhkan sumber daya manusia unggul yang telah ditempa melalui pendidikan global.

Meski demikian, Lia tidak menutup mata terhadap kemungkinan adanya faktor personal yang membuat alumni menetap di luar negeri, seperti alasan keluarga. Namun, ia berpandangan bahwa hal tersebut tidak perlu menjadi narasi resmi dalam kebijakan publik.

Baginya, LPDP bukan sekadar program bantuan pendidikan, tetapi strategi besar negara dalam menyiapkan generasi emas Indonesia.

“Ilmu yang diperoleh harus kembali menjadi energi kemajuan bangsa. Bagaimana ilmu dan motivasi keberhasilan selama menjadi penerima LPDP, bisa disampaikan pada adik-adik generasi di bawahnya,” jelasnya.

Blak-blakan, senator cantik itu juga menjelaskan bahwa dirinya pernah mendapatkan bantuan beasiswa, sekalipun jauh dari nominal yang didapat beasiswa LPDP.

“Kalau LPDP, memang Impian saya, namun gagal saya raih karena waktu S1 saya kuliah di tiga tempat jadi kurang mempelajari akses tersebut. Namun saat S2 atau magister, alhamdulillah mendapatkan beasiswa study dari Kemenag, yaitu full kuliah gratis, dan S3 atau doktoral, mendapatkan bantuan penyelesaian Pendidikan atau BPP.”

“Jadi selama 1 tahun bebas biaya kuliah. Pelajaran yang saya dapatkan, terutama saat S2, bahwa saya seharusnya sudah selesai dalam masa 1,5 tahun tapi karena beasiswa yang didapat untuk 4 semester, maka saya baru lulus 2 tahun. Dari situ saya belajar untuk bersabar harus menyadari bahwa setiap rezeki yang kita dapatkan, pasti ada konsekuensi,” pungkasnya.(Bang).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *