Ragam  

Wabup Nutul Azizah Apresiasi Masyarakat Desa Kesongo Menjaga Budaya Sedekah Bumi

admin
Screenshot 20260530 172834 Copy 657x468 1

Bojonegoro,ANN CO.ID — Tradisi sedekah bumi yang telah diwariskan turun-temurun kembali digelar masyarakat Desa Kesongo, Kecamatan Kedungadem, Sabtu (30/5/2026).

Tradisi yang menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas hasil panen dan keberkahan alam tersebut berlangsung meriah serta dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah.

Kehadiran Wakil Bupati disambut hangat masyarakat. Bagi warga Desa Kesongo, momentum ini menjadi istimewa karena sedekah bumi bukan sekadar agenda tahunan, melainkan tradisi leluhur yang telah lama dijaga sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu desa sekaligus ungkapan syukur atas limpahan rezeki dari sektor pertanian.

Secara historis, sedekah bumi di Desa Kesongo telah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat agraris sejak dahulu. Tradisi ini lahir dari kebiasaan warga yang menggantungkan hidup pada hasil pertanian dan meyakini pentingnya menjaga harmoni antara manusia, alam, serta nilai-nilai spiritual.

Setiap tahun, masyarakat berkumpul membawa hasil bumi, doa bersama, serta berbagai sajian tradisional sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur atas panen yang diperoleh.

Sementara Kusnadi Kepala Desa Kesongo dalam sambutannya menyampaikan bahwa sedekah bumi menjadi warisan budaya yang terus dipertahankan warga sebagai pengingat pentingnya kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan kepada leluhur yang telah membuka dan membangun desa.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati Nurul Azizah mengapresiasi komitmen masyarakat Desa Kesongo yang terus menjaga budaya lokal di tengah perkembangan zaman.

Menurutnya, tradisi sedekah bumi memiliki makna besar karena tidak hanya menjadi identitas budaya, tetapi juga memperkuat persatuan masyarakat.

“Tradisi seperti ini harus terus dilestarikan. Kita harus bangga dengan budaya sendiri, karena budaya adalah identitas sekaligus kekuatan masyarakat. Sedekah bumi menjadi pengingat bahwa hasil yang kita nikmati hari ini tidak lepas dari perjuangan para leluhur dan kerja keras masyarakat,” ucap Wakil Bupati.

Selain mengapresiasi pelestarian budaya, Wakil Bupati juga memanfaatkan momentum tersebut untuk menyosialisasikan program prioritas Pemerintah Kabupaten Bojonegoro berupa layanan cek kesehatan gratis bagi seluruh kelompok usia.

Dalam kesempatan tersebut Kepala Dinas Kesehatan Bojonegoro Ninik Susmiati, menyampaikan bahwa masyarakat dapat memanfaatkan layanan tersebut di puskesmas dengan cukup membawa KTP.

Pemeriksaan mencakup tekanan darah, gula darah, kolesterol, asam urat, kesehatan jantung, hingga deteksi berbagai risiko penyakit lainnya.

Masih menurut Kepala Dinas Kesehatan Bojonegoro Ninik Susmiati, bahwa masyarakat dapat memanfaatkan layanan tersebut di puskesmas dengan cukup membawa KTP.

Pemeriksaan mencakup tekanan darah, gula darah, kolesterol, asam urat, kesehatan jantung, hingga deteksi berbagai risiko penyakit lainnya.

“Jangan menunggu sakit untuk memeriksakan kesehatan. Pemerintah Kabupaten Bojonegoro telah menyediakan layanan cek kesehatan gratis di masingmasing puskesmas agar masyarakat tetap sehat,” bebernya.

Di sektor pertanian, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Dan Pertanian Bojonegoro Zaenal Fanani turut memberikan sosialisasi bahwasanya Pemerintah Kabupaten Bojonegoro juga terus mendorong peningkatan produktivitas melalui pengembangan benih padi unggul, salah satunya Gamagora dan juga inovasi pertanian guna mendukung kesejahteraan petani.

“Desa Kesongo ini nanti akan kami jadikan pilot project percontohan benih padi Gamagora” tandasnya.

Harapannya panen padi yang tadinya 1 hektare menghasilkan 6 ton, dengan benih padi Gamagora bisa menghasilkan 8 ton” harapnya.

Gunungan hasil bumi Desa Kesongo dikirab dari rumah Kepala Desa menuju Punden Agung berlangsung penuh khidmat sekaligus semarak.

Tradisi yang memadukan nilai spiritual, budaya, dan kebersamaan itu menjadi pengingat bahwa pembangunan desa tidak hanya berorientasi pada kemajuan fisik, tetapi juga pelestarian jati diri budaya masyarakat. (Red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *