Bojonegoro,ANN.CO.ID – Pemasangan stiker Keluarga Prasejahtera di Kabupaten Bojonegoro tengah menjadi perhatian masyarakat terkait dampak psikologi dan stigma bagi penerima manfaat.
Pemasangan stiker bertujuan untuk memverifikasi dan memastikan bantuan tepat sasaran. Namun, kebijakan ini justru menyoroti masalah data yang tidak akurat,
di mana beberapa warga yang kondisi ekonominya sudah membaik atau memiliki rumah layak masih terdaftar sebagai penerima bantuan.
Nafidatul Himah aktivis Koalisi Perempuan Indonesia menyoroti terkait penerima manfaat bantuan bagi keluarga prasejahtera tersebut (Senin 05/01/2026)
“Kalau saya lihat di medsos itu ada yang ditempel stiker tapi tidak menerima bantuan dan ada yang ditempeli stiker tapi termasuk keluarga mampu yang membuktikan data pemerintah tidak valid dengan kondisi lapangan dan penyaluran bantuan tidak tepat sasaran. ” ujarnya.
“Pemkab harus bekerjasama dengan Pemdes untuk membuka link pengaduan dan memperbaiki data terkait penerima bantuan agar tepat sasaran sehingga bisa di evaluasi. ” Ucapnya.
Dalam stiker Keluarga Prasejahtera tersebut tertera sekitar 30 jenis bantuan beserta nominalnya.
Walaupun tujuannya baik untuk transparansi dan validasi data, metode ini dinilai tidak efektif dan berpotensi menciptakan masalah sosial baru, karena penerima manfaat yang membutuhkan justru mundur, sementara yang mungkin tidak layak tetap bertahan atau memprotes penempelan stiker.
Sementara itu Mbh Doel salah seorang tokoh masyarakat Bojonegoro mengaku setuju atas pemasangan stiker tersebut.
Secara pribadi sangat setuju dipasang stiker,biar warga mengetahui apakah bantuan itu tepat sasaran atau tidak.
“Untuk yang malu di pasang stiker berarti orang itu sudah mampu, lebih baik mengundurkan diri dari segala bantuan karena sudah mampu dan kaya, dan dengan pemasangan stiker itu untuk mengetahui yang sebenarnya untuk bahan validasi secara menyeluruh biar penerima manfaat di tahun 2026 ini bisa tepat sasaran. setuju sekali stiker dipasang.” pungkasnya.
Berbagai kebijakan Pemerintah akan selalu ada Pro dan Kontra sebagai dinamika sosial ditengah masyarakat yang mewarnai iklim demokrasi.(HR).












